Mar 1, 2007

pete-pete,taxi, dan sebuah apv (part I)


semuanya dimulai dari ketidaktahuan saya menyetir dengan baik.

apv part..
di rumah ada apv nganggur. lucunya satu rumah cuma bisa/berani bawa mobil
dari rumah ke maros(hahahaha). saya juga termasuk dalam keluarga itu.
pernah ada teman yang minta dijemput di bandara. berhubung bandara masih
wilayah maros, dan teman yang dijemput teman baik saya (dalam artian kalo
terjadi apa-apa dia nda bakal minta ganti rugi) saya pun sedikit nekat
menjemput teman saya itu.
dimulailah usaha ini. setelah berhasil mengeluarkan mobil(dengan payah dan
dibantu huahua2), saya pun mulai menjalankan si apifi ini. aman saja sampai
tiba di bandara. pas di tempat ambil kertas(iya, karcis!) parkiran,
dimulailah tragedi. driver stupidity!! mungkin perlu saya cerita sedikit,
bandara itu semacam pelabuhan bagi pesawat. bisa dibilang gudang sih,
soalnya banyak pesawat yang sudah tua. intinya di bandara ada banyak
pesawat. kasian kalian semua yang nda pernah liat bandara. makanya jangan
cuma tinggal di gunung.
sesudah kalian mengasihani diri(atau saya,hehehehe) kita bisa lanjut
ceritanya. tempat ambil karcisnya bukan ambil sama orang seperti di tol,
mall, dll. tapi ada mesin yang letaknya menurut saya sangat tidak strategis.
saat saya ingin mengambil karcis, shit! masih kejauhan. saya majukan lagi
mobil, yes sudah di samping saya. saat ingin menjulurkan tangan, stupid me!!
saya lupa ngerem, mobil pun mundur dengan sukses. karcis pun semakin jauh
dari jangkauan. saya mengulangi hampir empat kali. dan perlu ada
syukuran,saat itu cuma mobil saya yang mau parkir. dan cuma ada 2 petugas
operator parkir yang dengan bangsatnya berhasil menahan tawa, tapi tidak
berhasil menahan senyum. kali ke-4 dengan segenap usaha dan setumpuk
kebodohan saya berhasil menyambar karcis tersebut. tragedi belum usai.
karena tekut parkir(takutnya susah keluarkan mobil) saya pun mendekatkan
mobil dengan terminal ketibaan(sori, kulupa namanya. eh ingat terminal
kedatangan) dengan setumpuk harapan teman (yang saya yakini tidak bakal
minta ganti rugi) ada dan melihat saya. setelah maju pelan2, saya melihatnya
duduk di salah satu kursi. saya pun menghentikan mobil, memanggil
namanya(awalnya sekedar panggil, lama-kelamaan berubah jadi tereeaaakkk).
bedebah. dia nda dengar. kurang ajar, dia lagi dengar mp3 player. terpaksa
deh saya turun. saya turun sambil penuh doa, agar tidak ada mobil yang
parkir di belakang saya. setelah mengepalkan tinju dari jauh, teman saya itu
baru "ngeh" akan kehadiranku. uh yeah. kami pun menuju ke mobil. celaka,
udah ada mobil di belakang. shit!! tidak ada saja, saya tidak yakin bisa
mengeluarkan apv secara utuh tanpa tatto. secercah harapan muncul,mobil itu
mundur. yes!! oh yeah!!! saya pun mundur, teman baik saya menggerakkan
tangan seakan lagi nyetir(dengan profesional). setelah berdebat kami
berhasil keluar. mungkin saya lagi bertentangan dengan operator parkir. saya
cuma bayar 1000(biasa naek motor). kena tegur deh. si mbak operator "2 ribu
pak". untung kali ini gak ada lagi tragedi maju mundur. jarak tengan masih
mencapai tubuh si mbak. upss, maksudnya masih bisa beri uang seribu itu
tanpa harus mundurkan mobil(yang kita ketahui bersama dapat berefek pada
lahirnya motif baru di body apivi).
di jalan, saya tanya teman saya. kamu bisa nyetir gak?? jawabannya " tidak!"
kambing pun digumam dalam hati,lalu aksi sok profesional tadi apaan???
kami pun sampai dengan selamat di rumah bahkan tanpa tambahan motif!!!!!

No comments:

Post a Comment

do you really need to give a damn??